Buginesse adalah sebuah ungkapan yang diartikan sebagai sesuatu yang berkaitan satu sama lain yang menyangkut Bugis dan lingkungannya. Buginesse awalnya berasal dari kata Bugis dan Esse’. Dalam bahasa Bugis Esse’ artinya ilmu. Namun penulisannnya menjadi Buginesse yang artinya ilmu yang mempelajari tentang Bugis.

Mempelajari tentang Bugis tidak terlepas dari asal-usul, bahasa, adat istiadat, lingkungan, serta penyebarannya. Bugis sebagai salah satu etnik yang umumnya berdiam di Sulawesi Selatan dikenal memiliki sejarah yang panjang serta kebudayaan yang tinggi.

Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berarti Orang Bugis. Secara mendalam kata UGI dimaknai sebagai Ulu (U), Gau (G), Ise (I). Ulu artinya kepala, Gau artinya perbuatan, Ise artinya isi.

Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayah dari Sawerigading.

Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang namanya diabadikan dalam sebuah karya sastra terbesar di dunia yaitu La Galigo.

Bahasa Bugis adalah salah satu dari rumpun bahasa Austronesia yang digunakan oleh suku Bugis. Bahasa tersebut banyak dipertuturkan di Sulawesi Selatan, terutama Kabupaten Maros, Pangkep, Barru, Majene, Luwu, Sidenreng Rappang, Soppeng, Wajo, Bone, Sinjai, Pinrang, Kota Parepare serta sebagian Kabupaten Enrekang, Majene, dan Bulukumba.

Bahasa Bugis terdiri dari beberapa dialek. Seperti dialek Pinrang yang mirip dengan dialek Sidrap dan Parepare. Dialek Bone yang berbeda antara Bone utara dan Selatan). Dialek Soppeng yang mirip dialek Bone. Dialek Wajo juga berbeda antara Wajo bagian utara dan selatan, serta timur dan barat. Dialek Barru, Dialek Sinjai dan sebagainya.

Ada beberapa kosakata yang berbeda selain dialek. Misalnya, dialek Pinrang dan Sidrap menyebut kata Loka untuk pisang. Sementara dialek Bugis yang lain menyebut Utti atau Otti, adapun dialek yang agak berbeda yakni kabupaten sinjai setiap bahasa Bugis yang mengunakan Huruf “W” diganti dengan Huruf “H” contoh; diawa diganti menjadi diaha, uwae menjadi uhae, dan lain-lain.

Karya sastra terbesar dunia yaitu I Lagaligo menggunakan Bahasa Bugis tinggi yang disebut bahasa Torilangi. Bahasa Bugis umum menyebut kata Menre’ atau Manai untuk kata yang berarti “ke atas/naik”.

Sedang bahasa Torilangi menggunakan kata “Manerru”. Untuk kalangan istana/kerajaan/addatuang/akkarungeng, bahasa Bugis juga mempunyai aturan khusus. Jika orang biasa yang meninggal digunakan kata “Lele ri Pammasena” atau “mate”. Sedangkan jika Raja atau kerabatnya yang meninggal digunakan kata “Mallinrung”. Sementara tempat meninggalnya disebut ” matinroe” artinya yang meninggal. Masyarakat Bugis memiliki penulisan tradisional memakai aksara Lontara.